Sinergi KBRI dan Desainer Campuran, Batik Indonesia Mengguncang London

Kedutaan Besar RI Berpartisipasi dalam London Craft Week 2026

Kedutaan Besar Republik Indonesia di London untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam ajang London Craft Week 2026 melalui kolaborasi dengan desainer tekstil British-Indonesia, Lisa King, dalam pameran bertajuk Batik: Recolouring Tradition. Pameran yang berlangsung pada 12–17 Mei 2026 di Gallery 8, St James’s, London itu menampilkan koleksi batik pribadi milik mendiang Farida King berdampingan dengan karya-karya terbaru Lisa King.

Melalui pameran tersebut, Lisa menghadirkan batik dalam konteks modern dengan menggabungkan unsur warisan budaya Indonesia dan perspektif lintas budaya sebagai seniman Inggris berdarah Indonesia. “Pameran ini membuka sebuah perjalanan panjang bagi saya,” ujar Lisa King.

Dalam proses kreatifnya, Lisa bekerja sama dengan komunitas perajin batik di Yogyakarta, termasuk generasi kedua Batik Winotosastro, serta spesialis warna di Inggris. Kolaborasi tersebut menghadirkan batik sebagai medium untuk merefleksikan identitas, memori, dan pertemuan dua budaya.

Inovasi dalam Memperkenalkan Batik ke Panggung Internasional

Duta Besar RI untuk Inggris, Desra Percaya, menyampaikan bahwa inovasi menjadi bagian penting dalam memperkenalkan batik ke panggung internasional. “Batik memang tradisi. Namun tradisi tidak pernah berhenti berkembang. Batik tetap relevan, ekspresif, dan dekat dengan kehidupan modern,” ujarnya.

Pembukaan pameran diawali dengan acara private viewing yang dihadiri korps diplomatik di London, Diplomatic Spouses Club London, The Women’s Council, serta mitra dan sahabat KBRI London. Acara tersebut juga dihadiri Victoria Kosasieputri yang membawa pesan keberlanjutan dan ramah lingkungan dalam produksi batik.

Pada hari kedua penyelenggaraan, Lisa King bersama KBRI London kembali menggelar Private View Evening yang menghadirkan komunitas media, seni, dan tokoh masyarakat setempat. Wakil Kepala Perwakilan RI London, Sahadatun Donatirin, menegaskan bahwa batik terus berkembang mengikuti zaman. “Tradisi bukanlah sesuatu yang kuno. Tradisi terus berkembang dan dapat digunakan oleh siapa pun,” ujarnya.

Penghargaan dari UK Trade Envoy

UK Trade Envoy untuk Indonesia dan ASEAN, Naz Shah, mengapresiasi penyelenggaraan pameran tersebut dan menilai pertukaran budaya melalui seni dapat memperkuat rasa kebersamaan antarnegara. Pameran mendapat sambutan positif dari masyarakat London. Dalam dua hari pertama penyelenggaraan, jumlah pengunjung tercatat mencapai lebih dari 300 orang.

Selain menampilkan kain batik, pameran juga menghadirkan sesi diskusi dan lokakarya mengenai penggunaan batik dalam desain interior bersama sejumlah desainer dan praktisi kreatif di Inggris.

Identitas Lintas Budaya

Bagi Lisa King, batik bukan sekadar kain tradisional. Di balik motif dan warna-warnanya, tersimpan jejak identitas, ingatan keluarga, dan hubungan personal dengan akar budaya Indonesia yang terus ia bawa meski tumbuh dan berkarya di Inggris.

Melalui pameran Batik: Recolouring Tradition di London Craft Week 2026, Lisa menghadirkan perjalanan artistik yang lahir dari pengalaman hidup sebagai perempuan berdarah British-Indonesia. Ia memandang batik bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga ruang dialog antara dua dunia yang membentuk dirinya.

Inspirasi utama pameran tersebut berasal dari koleksi tekstil milik mendiang ibunya, Farida King. Dari kain-kain itulah Lisa mulai menelusuri kembali hubungan emosional dengan Indonesia. Di tengah kehidupan modern London, batik menjadi cara baginya untuk menjaga kedekatan dengan akar budaya yang diwariskan keluarganya sejak kecil.

Pameran batik di London - (Erdy Nasrul/)

“Pameran ini membuka sebuah perjalanan panjang bagi saya,” ujar Lisa.

Sebagai bagian dari diaspora Indonesia, Lisa merepresentasikan generasi yang tumbuh di antara dua identitas budaya. Di satu sisi ia hidup dalam lanskap seni dan desain kontemporer Inggris, namun di sisi lain ia membawa memori, estetika, dan nilai budaya Indonesia yang terus melekat dalam proses kreatifnya.

Hal itu terlihat dari pendekatannya terhadap batik yang tidak terpaku pada bentuk tradisional semata. Lisa mencoba menghadirkan batik dalam konteks yang lebih dekat dengan kehidupan modern masyarakat Inggris, mulai dari desain interior hingga eksplorasi warna yang lebih kontemporer.

Dalam prosesnya, ia bekerja sama dengan komunitas perajin batik di Yogyakarta, termasuk generasi kedua Batik Winotosastro. Kolaborasi lintas negara tersebut memperlihatkan bagaimana warisan budaya Indonesia dapat terus hidup melalui dialog kreatif global.

Fenomena seperti Lisa King juga menunjukkan peran penting diaspora dalam memperkenalkan budaya Indonesia ke panggung internasional. Melalui pengalaman lintas budaya yang mereka miliki, diaspora sering kali menjadi jembatan yang mampu menerjemahkan tradisi Indonesia ke dalam bahasa visual yang lebih mudah diterima publik global.

Di tangan Lisa, batik tidak kehilangan identitasnya sebagai warisan Indonesia. Sebaliknya, ia justru menemukan ruang baru untuk berkembang. Motif-motif tradisional dipertemukan dengan perspektif desain modern, menghasilkan karya yang tetap berakar pada tradisi namun mampu berbicara kepada dunia yang lebih luas.

Pameran tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa identitas budaya bukan sesuatu yang statis. Ia terus bergerak, beradaptasi, dan menemukan bentuk-bentuk baru seiring perjalanan hidup manusia yang membawanya melintasi batas negara dan generasi.

Lebih baru Lebih lama